Kamis, 13 Juli 2017

Kenapa Harus Menulis

Kenapa Harus Menulis

Bagi sebagian orang, mungkin menulis adalah merupakan hobi. Begitu pun saya pada awalnya. Entah kenapa saya lebih tertarik pada kegiatan menulis daripada yang lainnya. Seperti orang –orang yang sangat menyukai permainan sepak bola atau balapan motor, misalnya.

Namun seiring berjalannya waktu, saya merasa menulis bukan hanya sekedar hobi. Lebih dari itu, seperti panggilan jiwa. Saya mencintai kegiatan ini dan merasakan banyak manfaat darinya.  Setidaknya, saya mempunyai beberapa alasan yang membuat saya harus menulis.

1. Menulis untuk mencari pahala
Saya senang membaca buku. Saat membacanya saya kagum pada penulisnya. Betapa jika yang ia tulis memberikan efek positif pada pembacanya, tentulah ia pun berlimpah pahala atasnya. Saya jadi terinspirasi untuk melakukan hal yang sama. Dari satu tulisan, jika dibaca 100 orang, dan mereka terpengaruh menjadi lebih baik, wow bisa dihitung berapa ia akan panen pahalanya. Bagaimana jika dua, tiga, dan banyak lagi? Tentu saja saya akan persembahkan tulisan terbaik untuk mendapatkan balasan terbaik dari-Nya.

2. Menulis sebagai sarana berbagi
Saya termasuk orang yang kurang pandai berbicara secara lisan. Suara rasanya susah keluar jika harus berbicara di hadapan orang banyak. Padahal sebenarnya banyak ide yang muncul di kepala. Bagaimana orang akan tahu pikiran kita jika tak diungkapkan? Karenanya saya memilih menuangkannya lewat suatu tulisan. Mungkin berawal dari kisah atau cerita sederhana, namun semoga bisa memberi inspirasi pada sesama.

3. Menulis sebagai terapi jiwa
Sebagai perempuan, yang konon akan mengeluarkan kata yang jauh lebih banyak daripada laki-laki, saya sangat terbantu dengan kegiatan menulis. Meski tak menemukan teman ngobrol, saya bisa bercerita lewat tulisan. Kebutuhan pengeluaran kata saya sudah aman. Jika kondisi sudah tak nyaman yang membuat emosi meninggi, saya akan menumpahkannya dalam tulisan.  Dan, hasilnya sungguh jauh lebih nyaman. Keluarga pun aman dari omelan, karena hasrat ngomelnya sudah tersalurkan:-)

4. Menulis sebagai kenangan
Berbagai kegiatan dan peristiwa yang terjadi sehari-hari saya abadikan dalam tulisan. Kelak, bisa dikenang. Di masa datang, bisa kembali membuka catatan perjalanan hidup sebagai bahan perenungan, mengambil hikmahnya dan bahan instropeksi diri. Catatan kehidupan itu juga bisa ditunjukkan pada anak-anak sebagai kenangan. Semoga mereka menemukan pelajaran darinya.

5. Menulis adalah mengikat ilmu
Pernah mendapat nasihat dari teman, bahwa menulislah untuk mengikat ilmu yang kita dapat. Dan benar saja, setiap selesai belajar, mendapat ilmu baru, saya mencatatnya. Ternyata hal itu sangat membantu untuk lebih paham tentang materi tersebut. Di lain waktu, jika lupa saya bisa kembali membuka catatan yang saya buat, tentu akan lebih mudah dimengerti kembali, karena tulisan itu saya buat sendiri.

Itulah beberapa alasan saya saat ini. Bukan tidak mungkin akan bertambah kelak, karena saya masih terus belajar. Menulis untuk belajar, dan belajar untuk menulis, lebih dan lebih baik lagi, in sya Allah…

#TulisanSyawal
#MenjagaSemangat

Tidak ada komentar:

Posting Komentar