Senin, 26 Juni 2017

Ibu, Pandai Dalam Berperan

Mudik, kembali bertemu ibu. Bagiku, bukan hanya untuk melepas rindu, namun juga kesempatan bisa belajar lebih banyak secara langsung. Kekagumanku pada beliau bukan karena dia yang telah melahirkanku. Tetapi lebih karena pengamatanku padanya terhadap pilihan sikapnya selama ini.

Pertama kali aku mengaguminya ketika dokter menyatakan ibu menderita hipertensi dan harus menjaga makanan yang dikonsumsinya. Dari beberapa orang yang kutahu, seperti saudara, teman orangtuaku, maupun orangtua temanku, banyak yang melanggar nasihat dokter dengan makan makanan pantangan. Namun tidak dengan ibuku, beliau konsisten menjaga asupan makanannya. Saat itu aku masih SMA. Hingga kini aku telah beranak dua.

Ketika bertambah dewasa, kuperhatikan kehidupan ibuku dengan lebih teliti. Dan aku menemukan hal-hal menarik yang menginspirasi. Saat bapak masih hidup, ibu selalu mendukung aktivitas suaminya, dengan caranya. Bapakku sangat aktif berorganisasi. Sebenarnya Ibu pun punya kesempatan yang sama. Namun Ibu memilih menjaga anak-anak di rumah. Juga dalam karir, Ibu selalu menempatkan diri agar bapak yang lebih tinggi dan cepat naiknya, meski sesungguhnya ia mampu.

Hal berbeda terjadi saat bapak meninggal. Peran orangtua beliau ambil alih semua. Dan ternyata terbukti bahwa ia mampu. Karirnya melejit karena tawaran yang dulu ia tolak demi memposisikan diri tak sejajar atau bahkan membuatnya lebih tinggi dari bapak kini ia terima dan berhasil dijalankan dengan baik.

Peran lain yang kukagumi saat aku telah menikah. Beliau sangat paham jika anak perempuannya kini milik menantunya, orang yang baru menjadi bagian keluarga. Selalu mengingatkan aku harus mendahulukan suami dan keluarganya, dibandingkan ibu. Selalu menghormati caraku dan suami mendidik anak-anak. Beliau tak menggurui meski telah lebih dulu berpengalaman. Terhadap anakku beliau tak memanjakan. Bahkan ikut mendukung apa yang telah aku dan suami tetapkan. Beliau percaya, kami telah menyiapkan yang terbaik bagi cucunya.

Dari caranya bersikap dan menjalankan perannya, aku diam-diam mempelajarinya. Dengan caranya, ia telah mengajarkanku bagaimana menempatkan diri, sebagai istri, sebagai ibu, sebagai menantu, dan kelak sebagai mertua dan sebagai nenek.

#RamadhanInspiratif
#Challenge
#Aksara
#HariKeTigaPuluh

Sabtu, 24 Juni 2017

Menikmati Kesedihan

Hari Rabu kemarin sang kakak muntah-muntah usai pulangnya dari sholat isya di mushola. Ia tak melanjutkan berjamaah tarawih, pusing katanya. Saya memberinya obat maag, karena tidak ada makanan yang aneh saat buka puasa tadi.

Namun hingga esoknya belum juga sembuh. Badannya pun panas. Kebiasaannya jika demam, ia mengigau saat tidur. Saya menemaninya, memeluknya, memijit kepalanya yang sakit dan mengelus punggungnya yang pegal. Tiba-tiba saya merasa bersalah padanya, selama ini kurang waktu khusus untuknya. Sejak punya dua anak saya harus berbagi waktu dengan adiknya.

Biasanya hampir setiap kegiatan kami jalani bertiga atau bahkan berempat dengan ayahnya. Jarang saya berdua saja dengan si kakak. Tapi dengan sakit ini kami tidur berdua tanpa ada adiknya di tengah, bisa menyuapinya lagi, bisa bercerita hanya berdua saja. Bersyukur adiknya sudah mengerti jika kakak sedang sakit dan perlu perhatian dari saya.

Catatan buat saya agar bisa mengatur strategi hingga dapat meluangkan waktu khusus untuk masing-masing anak, berdua saja dengan kakak dan berdua saja dengan adik. Sehingga mereka merasa tercukupi kebutuhan kasih sayangnya.

Alhamdulillaah, Allah beri peringatan lewat sakitnya kali ini. Meski sedih karena ia sakit yang membuat jadwal mudik kami terlambat, namun ada pelajaran berharga yang bisa diambil. Ada kebahagiaan saat menikmati waktu berdua saja dengannya. Selalu ada hikmah dibalik suatu peristiwa. Belajar mensyukuri apapun keadaan pemberian-Nya...

#RamadhanInspiratif
#Challenge
#Aksara
#HariKeDuapuluhSembilan

Memaafkan Adalah Amalan Menuju Surga

"Mas, ini mobil mainanmu di sini ternyata" teriak si bungsu sambil menunjukkan mobil kakaknya yang ia temukan diantara tumpukan mainannya.
Tak ada raut kesal pada wajahnya. Padahal, sebelumnya sang kakak menyembunyikan boneka kecilnya hingga membuatnya sedih.

Saya, melihat kejadian itu jadi malu. Bahwa anak sekecil itu sudah bisa memaafkan kesalahan kakaknya yang jelas-jelas disengaja. Tanpa ada rasa dendam, bahkan membalasnya. Sedangkan saya, seringkali masih menyimpan rasa kesal, tak terima dan mengingat selalu kesalahan orang lain. Padahal kadang sudah saling memaafkan, secara lisan. Tapi ternyata hati sulit sekali memaafkan secara tulus.

Teringat tausiyah dari seorang ustadz bahwa di zaman Rasulullah ada sahabat yang sudah dijamin masuk surga hingga membuat sahabat lain penasaran terhadapnya. Setelah diikuti kesehariannya, tak ada kegiatan khusus yang dilakukan olehnya. Hingga seorang sahabat menanyakan apakah yang dilakukannya yang belum diketahui orang sampai Rasul mengatakan telah dijamin surga baginya. Ternyata setiap malam sebelum tidur ia selalu memaafkan orang lain.

Ma sya Allah, amalan memaafkan ternyata bisa menjadi jalan masuk surga. Terdengar sederhana ya, memaafkan, namun ternyata butuh keluasan hati dan keikhlasan tingkat tinggi untuk benar-benar melakukannya. Bukan hanya terucap di lisan, namun hingga hati ini sungguh telah ikhlas memaafkannya.
Bismillaah, belajar memaafkan demi mencapai surga-Nya...

#RamadhanInspiratif
#Challenge
#Aksara
#HariKeDuapuluhDelapan

Menulis Sebagai Terapi Jiwa

Sejak dulu saya suka menulis. Waktu kecil, setelah membaca cerita dari suatu majalah saya akan membuat cerita sendiri dan menuliskannya untuk teman. Saya masih ingat, saya membuat surat untuk teman sebangku semasa SD. Kebiasaan ini berlanjut hingga saya dewasa. Di sela-sela kesibukan bekerja, saya masih suka membuat cerita dan menunjukannya pada teman-teman dekat.

Ketika telah menikah dan punya bayi, awalnya kegiatan menulis sempat terhenti, karena repotnya. Hingga suatu saat saya sedang merasa kesal, saya manfaatkan untuk menggosok lantai kamar mandi dengan maksud hati menyalurkan tenaga marah untuk kegiatan positif. Namun sampai tangan pegal saya masih belum lega juga. Akhirnya saya tulis isi hati saya dalam berbagai bentuk, puisi, surat, hingga cerpen. Setelah itu rasanya lebih legaaa...

Saya baru tahu kalau yang saya lakukan itu bagian dari terapi jiwa ketika membaca kisah Pak Habibie setelah ditinggal Bu Ainun meninggal dunia. Kala itu Pak Habibie mengalami kesedihan mendalam hingga dokter menyarankan empat hal, yaitu dirawat di RSJ, berobat di rumah dengan pengawasan dokter yang datang, curhat kepada orang terpercaya, atau curhat pada diri sendiri. Dan beliau memilih yang keempat, yaitu curhat pada diri sendiri dengan menuliskannya hingga berhasil menjadi buku. Dengan menulis, Pak Habibie bisa sembuh dari sedih yang berkepanjangan. Dengan menulis, beliau bisa bangkit dan kembali berkarya positif.

Kisah Pak Habibie dengan tulisannya membuat saya menjadi rajin menulis kembali. Apa saja bisa jadi tulisan. Kisah sedih, bahagia, kesal, kecewa, senang bisa menghasilkan tulisan yang menenangkan jiwa saya. Saya belajar untuk bisa menulis dengan lebih baik agar bermanfaat bagi orang lain. Tapi setidaknya, dengan menulis membuat saya menjadi tenang, bisa menjaga kestabilan emosi saya. Mari menulis lagi....dan bahagia kan datang, in sya Allah..

#RamadhanInspiratif
#Challenge
#Aksara
#HariKeDuapuluhTujuh

Jumat, 23 Juni 2017

Orangtua dan Teman Sebaya

Selepas maghrib saya ada perlu keluar rumah untuk membeli sesuatu. Melewati ruko yang ramai dengan anak remaja tanggung, saya pun memperhatikan sekilas. Ternyata sebuah rental play station (PS).

Pernah di suatu pagi saya menemukan rental PS itu sudah ramai dengan anak-anak. Yaah, memang tidak pagi sangat, tapi masih bisa dibilang pagi, saya saja baru pulang dari pasar.

Saya jadi berpikir, anak-anak itu sangat bahagiakah di rental PS? Hingga siang malam bahkan pagi mereka asyik memainkannya. Tidakkah punya kegiatan lain yang lebih seru? Begitu pula orangtuanya, tak merasa khawatirkah? Wallaahu 'alam.

Hal ini mengingatkan saya pada cerita Teh Kiki Barkiah dalam bukunya 5 Guru Kecilku, pentingnya orangtua menyiapkan pertemanan dan sosialisasi anak-anak nya. Kita sekarang hidup di akhir zaman, dengan tantangan yang luar biasa hebat untuk tetap bisa memilih menjadi manusia yang berperan dalam kemenangan Islam.

Aaah... saya jadi ingin memeluk anak-anak dan mengajaknya bermain sambil menyisipkan kisah-kisah teladan yang membuatnya semangat menjadi pribadi beriman dan cinta Rasul. Memang kita tidak bisa menutup mata dari riuhnya pergaulan di luar sana, namun saya ingin membekali anak-anak agar mempunyai kekebalan jiwa dalam memilih mana yang baik dan yang bermanfaat saja.

Besarnya amanah kita sebagai orangtua yang harus menunjukkan jalan lurus bagi anak-anak, termasuk memilih teman. Kadang anak yang beranjak baligh lebih suka bernain dengan temannya daripada orangtuanya. Di sinilah PR nya, bagaimana kita sebagai orangtua menjadikan teman terpercaya bagi anak-anak, hingga ketika mereka mempunyai teman pun akan menceritakannya pada kita. Dan orangtua hendaknya menjadi teman yang asyik bagi mereka selayaknya sahabat. Belajar terus menjadi orangtua...

#RamadhanInspiratif
#Challenge
#Aksara
#HariKeDuapuluhEnam

Selasa, 20 Juni 2017

Mudik yang Sesungguhnya

Lebaran tinggal menghitung hari yaa..Sebagian bahkan sudah mudik ke kampung halaman untuk berkumpul dengan sanak saudara. Untuk mudik, apalagi yang jaraknya lumayan jauh, tentu perlu banyak persiapan yang cukup.

Saat saya mempersiapkan sekedar buah tangan untuk dibawa mudik nanti, ternyata cukup repot juga. Belum perlengkapan untuk kami sekeluarga seperti baju, bekal makanan dan obat-obatan. Padahal menurut saya itu sudah dipilih yang penting-penting saja. Saat melakukan reka adegan untuk nanti dalam perjalanan, rasanya kami akan sulit membawa semua barang itu, ditambah menggendong dan menggandeng anak-anak.

Saya jadi teringat kata seorang ustadz, entah siapa dan di mana saya lupa, mengatakan bahwa sesungguhnya kita ini bukan penduduk bumi, kita adalah penduduk surga. Yang artinya suatu saat nanti kita akan pulang ke sana. Jika diibaratkan kondisi sekarang nanti kita akan mudik ke akhirat tujuan surga.

Lalu, jika mudik ke tempat di dunia saja penuh persiapan, bagaimana dengan mudik abadi nanti?Apakah yang telah saya persiapkan untuk menuju ke sana? Sudah cukup bekal kah? Sudahkah saya juga mencoba reka adegan dengan bekal yang akan saya bawa nanti? Ya Allah...ampuni saya...Tiba-tiba air mata menetes...

Masih ada beberapa hari Ramadhan untuk kita maksimalkan amal kebaikan. Juga hari-hari berikutnya tetap dengan amalan segiat Ramadhan. Yuk, perbanyak bekal untuk pulang ke kampung akhirat nanti. Pun perlu memilih bekal yang penting dan baguslah yang akan kita bawa. Jangan sampai kita kurang bekal atau salah membawa bekal. Semoga kita kembali berkumpul dengan keluarga dengan bahagia di surga-Nya, aamiin.

#RamadhanInspiratif
#Challenge
#Aksara
#HariKeDuapuluhLima

Siapkan Mental Bahagia Sebelum Mudik

Mudik merupakan kesempatan bertemu dengan sanak saudara dan teman-teman lama. Ada kebahagiaan tersendiri bisa melepas rindu dengan mereka. Namun ada kalanya karena jarang bertemu itu, memicu percakapan yang kebablasan.

Teringat dulu awal aku resign. Orangtua sih nggak masalah karena sudah tahu alasannya. Tapi malah saudara jauh yang berkomentar nggak enak di hati. Memang kadang orang yang tak mengenal kita dengan baik itu yang memberikan komentar sok tahunya.

"Jadi kamu udah nggak kerja lagi? Sayang banget dong"
"Kok betah sih di rumah aja seharian?"

Kalimat-kalimat begitu bisa merusak suasana lebaran yang syahdu.

Belajar dari pengalaman itu, kini tiap kali hendak mudik aku menyiapkan beberapa hal berikut :
1. Menguatkan diri beberapa waktu sebelum mudik. Termasuk minta dukungan suami tentang masalah ini. Agar kami saling mengingatkan dan menguatkan.
2. Menata hati bahwa yang kita lakukan adalah karena Allah dan itu keputusan terbaik yang kita pilih. Tak perlu penilaian orang tentang hal ini.
3. Anggap orang yang berkomentar sok tahu itu berarti peduli dengan kita, maka bersyukurlah.
4. Tak perlu baper dengan komentar mereka, kan orang yang sok tahu berarti sebenarnya malah nggak tahu :-p Jadi tak perlu terlalu memikirkannya.
5. Hadapi dengan senyum penuh keyakinan. Karena kalau kita mantab memberi jawaban, hati kita pun bahagia. Berharap orang lain akan merasakan aura bahagia kita.

Jika kita terlihat gembira dan menikmatinya, serta memberikan jawaban dengan mantab penuh senyuman, in sya Allah orang lain akan tertarik atau setidaknya menghargai pendapat kita. Namun ingat, jangan balas komentar miring mereka dengan hal serupa atau bahkan dengan nyinyiran kita.

Mudik dan lebaran adalah saatnya bahagia, maka selayaknya kita bagikan pula kebahagiaan pada semua. Saatnya mudik yang bahagia...

#RamadhanInspiratif
#Challenge
#Aksara
#HariKeDuapuluhEmpat