Kamis, 18 Mei 2017

Aku, Bayanganku dan Cinta Monyet Itu

Aku, Bayanganku dan Cinta Monyet Itu

Mengingat masa remaja konon menyenangkan. Namun bagiku, ada beberapa hal yang membuat dahi berkerut saat mengenangnya.

Masa kecilku tinggal di sebuah desa di daerah Jawa Tengah. Orangtuaku berprofesi sebagai guru. Sejak kecil aku telah dilatih untuk berprestasi, terutama di bidang akademik. Tak heran saat SD, aku selalu mendapat ranking satu. Enam tahun selalu menjadi juara kelas. Aku merasa bangga atas prestasiku tersebut. Namun memasuki SMP, aku mulai merasakan hal yang berbeda.

Saat lulus SD, aku masuk SMP di kota kecamatan, yang berarti bergabung dengan banyak teman dari SD berbeda. Pergaulanku pun semakin luas. Aku mulai mengenal lagu-lagu dengan Bahasa Inggris dan beberapa majalah remaja. Aku juga mulai mengikuti beberapa ekstra kurikuler. Aku menikmatinya. Tapi ada ketakutan yang kualami terkait prestasi akademikku.

Aku sangat ketakutan jika nilaiku jelek. Selain karena tuntutan orangtua, aku juga merasa malu jika aku tak mendapat ranking satu. Pikiranku membayangkan ejekan orang jika aku yang sewaktu SD selalu juara kelas sekarang tak lagi berprestasi. Aku ketakutan dengan bayanganku sendiri.

Sebenarnya orangtuaku pun tak menuntut aku harus ranking satu. Target mereka aku masih masuk sepuluh besar di kelas unggulan. Tapi aku terlanjur dibayangi targetku sendiri. Aku jadi sangat egois. Tiap mengerjakan soal aku tak mau berbagi jawaban dengan teman. Aku cenderung menyendiri.

Karena ketakutanku itu, aku tak mempunyai teman dekat. Semua kuanggap ancaman bagi posisi meraih ranking di kelas. Aku terlalu serius dalam menghadapi pelajaran. Padahal di sisi lain, masa puberku mulai terjadi. Aku merasa tertarik pada lawan jenis.

Aku galau sendiri. Aku menyimpan sendiri rasa ketertarikanku. Tak ada teman yang bisa kuajak cerita. Aku pun tak berani berkisah pada orangtua. Bisa runyam kalau sampai ayah ibuku tahu bahwa aku sedang jatuh cinta. Mereka termasuk tipe orangtua yang melarang anaknya untuk pacaran di masa sekolah. Mereka beralasan bahwa pacaran hanya akan meghambat prestasi belajar.

Kegundahanku hanya membuatku tak bisa konsentrasi. Alih-alih mengejar ranking satu, mengikuti pelajaran pun banyak yang tak masuk otak. Beberapa kali aku tak mencatat materi dan menjawab soal dengan asal saja. Kelas satu dan kelas dua aku hanya masuk sepuluh besar. Aku sedih dan kecewa.

Kenaikan kelas tiga menjadi langkah awalku memasuki semangat baru. Aku tak lagi memikirkan apa kata orang jika aku tak lagi juara kelas. Aku juga sudah menyingkirkan rasa “cinta monyet” ku. Aku mulai mempunyai target baru, masuk SMA di kota lain, salas satu SMA favorit di karesidenanku. Dan untuk bisa masuk SMA itu, lulusan SMP luar daerah sepertiku harus dengan NEM (Nilai EBTANAS Murni) yang tinggi melebihi NEM SMP kota tersebut.

Aku mulai serius belajar dengan sungguh-sungguh. Dan aku mulai terbuka dengan teman-teman. Beberapa diantaranya juga berniat mendaftar di SMA favorit itu. Kami berjuang bersama. Ketakutanku kini kulawan dengan tekun belajar dan berdoa.

Aaah, mengenang masa SMP memberiku hikmah kehidupan yang luar biasa. Bahwa kadang kita terbelenggu oleh ketakutan yang kita ciptakan sendiri. Kita takut pada bayangan tentang bagaimana orang lain memandang kita, padahal belum tentu orang lain mempunyai pikiran yang sama dengan yang kita khawatirkan. Mari berpikir positif, selalu!

#30Day Writing Challenge
#Day 1

#BelajarMenulis
#Day3
#Odopfor99days

Selasa, 16 Mei 2017

Congklak

Sudah lama ingin mengenalkan permainan tradisional pada anak-anak. Beberapa waktu lalu pernah mengajak mereka ke festival permainan tradisional di Depok. Mereka sempat tahu dan menikmati gobak sodor. Karena keterbatasan waktu kala itu, tak banyak yang bisa dimainkan.

Saat ada festival dongeng di musium nasional, mereka sempat melihat dan memainkan dakon sebentar. Tapi mereka lebih suka memainkan alat musik yang ada di situ.

Kemarin saat perjalanan pulang menjemput si bungsu dari sekolah, kami bertemu tukang mainan di jalan. Bapak yang sudah sepuh itu mendorong gerobaknya. Dengan niat sedikit membantunya, saya mengajak anak-anak untuk membeli mainan padanya. Tiba-tiba saya ingat dakon.
"Ada dakon, Pak?" tanya saya.
Si Bapak tampak bingung dan menjawab, "Nggak ada Neng, paling ada begini" sambil membuka dagangannya. Dan ternyata saya menemukannya.
"Itu yang di bawah apa, Pak?" saya menunjuk ke bungkusan berwarna hijau.
"Ooohh..itu mah congklak" jawab si Bapak.
Aha! Saya baru ingat, nama lain dari dakon adalah congklak.

Alhamdulillaah, anak-anak suka. Sampai rumah langsung dibuka. Si bungsu yang masih TK belajar menghitung manik-maniknya. Si sulung dengan gaya leadership nya mengatur berapa banyak manik-manik yang akan dibagi-bagi tiap lubangnya.

Masih ada keinginan saya mengenalkan permainan zaman saya kecil dulu, bola bekel, bongkar pasang aneka baju dengan kertas, yoyo, lompat tali, sudamanda, apa lagi yaa...Ini sebenarnya mau mengenalkan permainan tradisional pada anak-anak, atau ibunya yang belum puas main zaman kecilnya :-p :-)
Yang penting anak riang dan Ibu senang :-)

#BelajarMenulis
#Day2
#Odopfor99days

Rabu, 10 Mei 2017

Rejeki Itu Pasti

Rejeki Itu Pasti

Bismillaah, belajar mencatatkan hikmah. Hari Senin pekan kemarin, akhir long week end kami sekeluarga belum mempunyai rencana seru. Awalnya suami mau ke bengkel motor, namun ternyata tutup, tanggal merah :-)

Sudah agak siang akhirnya suami mengajak kami ke Bogor, ada setu bagus yang ingin beliau tunjukkan pada anak-anak. Berangkatlah kami dari Bekasi bakda Dzuhur, dengan perkiraan sampai di sana sudah menjelàng sore, tak lagi panas :-p

Qodarallah, di jalan tol jagorawi sudah mulai hujan. Mendekati Bogor tambah deras, pandangan pun agak tertutup kabut. Dengan pertimbangan keselamatan, kami putuskan ke Bogor Kota saja, wisata kuliner. Dengan cepat saya search Google tempat makan yang enak dan murah di dalam kota Bogor. Beberapa sudah dicatat. Sambil melihat Google map, kami mencari sebuah warung soto. Hujan begini enaknya yang berkuah panas :-)
Setelah sempat nyasar dan balik arah, ketemu juga warung Soto nya. Dan ternyata habis !

Sambil tengok kanan kiri kami mulai lagi mencari warung makan di jalan yang kami lewati. Kali ini sudah tak sempat membuka internet lagi. Saya berdoa semoga dapat warung yang ada mushola nya, biar skalian sholat Ashar. Hujan masih deras. Tiba-tiba suami berhenti,
"Bagaimna kalau kita makan bakso saja? Itu di depan ada bakso"
Saya menanamkan penglihatan, yes bakso yang sama pernah kita nikmati di Wonogiri.
Dan alhamdulillaah, di dalam ada tempat sholatnya, sip !

Saya, suami dan anak bungsu makan bakso, sedangkan si sulung hanya minum jus tomat. Giginya tiba-tiba sakit. Rasanya berdenyut-denyut, katanya.

Selesai makan dan sholat kami segera meluncur pulang. Tujuan kami ke Dokter Gigi.
Di dalam mobil saya berkata, " Ma sya Allah, makan bakso aja kita jauh banget ya"
Suami menjawab, "itulah rejekinya penjual bakso. Kita nggak tahu daerah ini, tapi Allah mengantarkan kita datang padanya".

Benar juga. Saya tak menyangka kami ke Bogor hanya untuk makan bakso, tak jadi mampir ke mana-mana. Selain hujan, gigi si sulung yang sakit harus kami prioritaskan.

Belajar dari kisah ini, saya mencatat bahwa rejeki sudah diatur oleh-Nya. Tugas kita hanya berusaha, bekerja, berdoa. Tak perlu risau rejeki akan salah tempat, lakukan yang terbaik dan Allah Yang Maha Pemurah akan memberi kita kejutan-kejutan tak terduga.

#BelajarMenulis
#Day1
#Odopfor99days

Sabtu, 15 Oktober 2016

Cinta

Cinta,
Dulu aku berjanji cintaku takkan berubah
Namun ternyata aku keliru
Kini cintaku padamu telah bertambah